Selasa, 15 Januari 2019

Sahabat, Motivasi tinggi, dan Pantang Menyerah Demi mewujudkan Mimpi

     Hmmmmmm, aroma kopi tubruk panas menusuk indera penciumanku di pagi ini. Yaa, kopi tanah puyang, kopi khas Sumatera Selatan. Aromanya bergelut dengan aroma pisang goreng yang baru saja berjemur dari penggorengan. Pagi yang indah fikirku, sembari melamunkan negeriku yang diujung tanduk. Kuperhatikan setiap orang yang melintas di depan rumahku. Pagi masih gelap, tetapi banyak orang berlalu lalang memulai aktivitasnya. Betapa bersemangatnya mereka pikirku. Sekumpulan remaja melintas lengkap dengan outfit jogging, sangat bersemangat, sesekali bercanda dengan riangnya. Menoleh kekanan dan kekiri melempar senyuman, oh tuhan aku juga pernah sebebas itu.

..............

“Din, tumben kamu semangat banget pagi ini, udah dua jam loh kita lari pagi ini” gurau ali sembari menjaga irama langkah yang sudah mulai goyah karena kelelahan.

“iya nih, aku pengen banget  jadi anggota TNI  Li” kujawab penuh antusias. Iya, tahun ini aku akan lulus SMA, aku pengen jadi anggota TNI setelah lulus.

“idihhhh ngebet banget, hahahaha. Awas jangan terlalu terobsesi ntar stres loh” kami tertawa lepas, kali ini langkah kami benar-benar terhenti. Aku memeluk perutku sendiri yang penuh peluh.


“bisa aja kamu li. Eh capek nih, istirahat yuk” pintaku memelas, sambil terus memeluk perutku yang buncit.


“yeee baru dipuji dikit  aja udah goyah. Yaudah berhenti di depan yaa, sekalian beli minuman” jawab Ali santai.


     Ali berlari mendahuluiku sambil memberi kode untuk diikuti. Ia lalu berhenti di sebuah warung untuk membeli air mineral. Aku akan terus mengikutinya kemanapun dia berlari agar aku juga bisa menjadi anggota TNI. Biaya kuliah di kotaku mahal, setidaknya itu penilaian orangtuaku. Aku harus giat berlatih agar bisa mewujudkan cita-citaku. Aku dan Ali tak akan setengah-setengah, kami sudah setahun ini lari pagi dua jam setiap hari. Kami selalu menambah porsi latihan kami. Aku akan menjaga kedaulatan NKRI. Aku akan menjaga kedaulatan bumi pertiwi.


“Eh nyet, ngelamunin apa ? masih pagi juga” sodok Ali sambil menyodorkan segelas air mineral


“pelan-pelan minumnya, kaki dilurusin biar ngga parises” Ali yang cerewet terasa lebih menyebalkan jika sedang serius, tapi dia baik hati dan tulus. Yaa, itu hanya opini pribadiku.


“Eh, anu, iya, gimana ? Apanya ?” aku yang gugup menjawab sembarangan. Hanya disambut gelak tawa Ali. Aku ikut tertawa.


“li, gimana berkasmu ? udah beres semua ?”


“Ah, bisa aja lu ngalihin pembicaraan. Udah beres semua, tinggal cus” iya, kami sedang mempersiapkan berkas untuk pendaftaran. Sudah hampir setahun kami lari pagi, kami mepersiapkannya dengan baik. Putra terbaiklah yang harus menjadi anggota TNI, kamilah diantaranya.

.............


“udah, kalo kaga punya duit gausah soksokan daftar, percuma !!!”


     Aku masih menangis di kamarku, bertutup bantal dan selimut. Berbisik pada kasur. Aku masih menangis di kamarku. Menelan habis kalimat tersebut. Tidak, kalimat itu tidak pernah habis, tidak pernah hilang. Semakin menggema, semakin mengiang di kepalaku.


Nyatanya aku gagal.


     Setahun terakhir waktuku habis untuk berlatih dan berlatih. Aku percaya, aku cukup kuat, aku cukup sehat, dan aku cukup pintar untuk menjadi anggota TNI. Ternyata semua itu belum cukup. Ya, aku tetap saja gagal. Aku tak lulus tahap akhir tes untuk menjadi prajurit, begitu juga dengan Ali. Aku tak tahu apakabarnya hari ini, aku hanya peduli pada kemalanganku, aku ingin sendiri, berteriak sesuka hati, mungkin Ali juga sedang begini.


      Aku tak tahu berapa lama aku menangis, aku tiba dirumah saat malam hari, saat ini hari sudah malam lagi, entah hitungan keberapa jam dinding berputar. Aku tak pernah benar-benar menghitung. Bapak-ibukku datang dan pergi bergantian menghampiriku di kamar, bukan lagi untuk menghiburku, mereka hanya memastikan aku masih hidup. Yaaa hanya itu. Tidak, aku tidak punya kekasih selain Ali, itupun juga kalo dia bisa dikategorikan sebagai kekasih. Belakangan ini kami hanya fokus pada tes ini, tidak benar-benar peduli pada urusan wanita, itu bisa menyusul nanti setelah aku berhasil mewujudkan doa-doaku. Walaupun nyatanya hari ini kami sudah gagal. Kamu tak perlu menghitung rasa malu yang aku tanggung pada lingkunganku. Juga tak usah menghitung seberapa banyak yang aku korbankan untuk semua ini. Kurasa kamu tak akan pernah berniat menghitung semua itu jika melihat kondisiku sekarang.


Bip Bip Bip Bip


“nyet bangun, masih nangis lu, ah payah, pantes aja Ibu pertiwi ngga nerima lu, lu nya cengeng gimana mau jagain ibu pertiwi, hahahaha” sontak mataku yang sembab terbuka dengan paksa. Telingaku yang selama ini tuli mendadak bisa mendengar lagi. Semangatku yang telah mati bangkit kembali, anggap saja reingkarnasi. Enak saja dia ngomong begitu, bukannya dia juga terpukul, bukannya ali juga nangis dikamarnya, aku  tak benar-benar tuli, ibukku sering menyebut nama ali dalam obrolannya dengan bapak pas menghiburku beberapa hari yang lalu. Bagaimana bisa dia bangkit lebih dulu dariku, dia ngga sekuat itu.


“kalo saja kuota penerimaan kemarin nambah satu lagi, ibu pertiwi pasti lebih milih aku dari pada kamu. Karena aku bisa bangkit lebih cepat darimu hahahaha” hah apa-apaan ini, omong kosong macam apa yang ali coba katakan.


“kata siapa ? aku sudah baik-baik saja. Satu lagi ibu pertiwi pasti lebih milih aku karena aku lebih kuat dari kamu hahahaha”


“oh ya ? bisa dibuktikan ?”


“Besok pagi jam 04:00 WIB di GOR, terlambat berarti menyerah, berani ?

“eh sejak kapan kamu berani nantangin hah ? Deal !!!”

..............

     Ah kopiku hampir saja dingin ditiup angin pagi. Suara burung yang hinggap di batang sawo depan rumahku menambah indah suasana pagi ini. Bagiku pagiku tetap indah, begitu juga pagi itu. Andai saja Ali tak menelponku malam itu.  Mungkin saja kami tak pernah bangkit lagi.

     Yaaa hasilnya bisa ditebak, meskipun kami bisa datang tepat waktu, kami tak berlari lebih dari 10 menit pagi itu. Badan kami masih drop setelah hampir sebulan meratapi nasib di kamar.

Sahabat dan Mimpi

     Belakangan kami baru tau, semangat kami bangkit di malam yang sama. Ali belum benar-benar bangkit kala menelponku malam itu. Tapi Ali tak akan pernah mengabaikan tantanganku. Kami baru sadar betapa pentingnya seorang sahabat, yang bisa jadi lebih mengerti keadaanmu daripada orangtuamu, daripada kekasihmu. Engkau tetap bisa menghormati orangtuamu, juga tetap bisa mencintai kekasihmu, sembari hidup bersama sahabatmu.


     Potongan terakhir pisang goreng kulahap dengan rakus, menyisakan cete kopi tubruk buatan ibuku. Hari ini aku off, jatah istirahat mingguan dari dinasku di Batalyon III Siliwangi. Bagaimana kabarmu Ali ? gumamku pelan. Aku yakin dia juga sedang menjalani hidup yang menantang di Batalyon II Sriwijaya. Aku masih mengingat semuanya li. Motivasi tinggi mu, semangat pantang menyerahmu, tetap ada dibenakku. Ali, terimakasih untuk persahabatan dan mimpi kita.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Sahabat, Motivasi tinggi, dan Pantang Menyerah Demi mewujudkan Mimpi

0 komentar:

Posting Komentar